Transaksi kripto turun, ini katalis yang bisa dongkrak lagi pasar

Scoot.co.id JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia pada Maret 2026 turun 4,7% menjadi Rp 22,24 triliun, dari Rp 24,33 triliun pada Februari 2026.

Namun, aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia berpotensi kembali meningkat seiring munculnya sejumlah katalis yang dapat memperbaiki sentimen pasar dalam waktu dekat.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan katalis utama yang berpotensi mengangkat kembali aktivitas perdagangan kripto di Indonesia adalah pemulihan sentimen global, terutama jika Bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas level psikologis US$ 80.000.

Level tersebut dinilai menjadi indikator penting bahwa tekanan jual mulai mereda dan kepercayaan investor mulai pulih.

Penjualan dan Laba Ultraja (ULTJ) Naik Awal Tahun 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

“Bitcoin masih menjadi acuan utama pasar kripto, stabilitas harga BTC biasanya ikut mendorong minat transaksi pada aset kripto lain, termasuk di pasar domestik,” kata Calvin kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).

Selain itu, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor krusial.

Jika pasar mulai melihat peluang pelonggaran suku bunga atau sinyal yang lebih dovish dari The Federal Reserve (The Fed), likuiditas global berpotensi meningkat dan kembali mendorong minat terhadap aset berisiko.

“Dalam konteks Indonesia, kondisi ini bisa mendorong investor yang sebelumnya wait and see untuk kembali masuk secara bertahap, terutama pada aset dengan likuiditas besar seperti Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin,” ujar Calvin.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah perkembangan geopolitik global. Meredanya ketegangan geopolitik dapat memperbaiki persepsi risiko pasar dan membuka ruang bagi peningkatan aktivitas perdagangan kripto.

Calvin menyebut adanya sejumlah riset yang menilai prospek kripto pada kuartal II-2026 cenderung netral karena ketidakpastian global membuat investor belum agresif mengambil posisi jangka pendek.

Di sisi domestik, kebijakan juga menjadi salah satu katalis penting.

Harapan terhadap kebijakan pajak yang lebih kompetitif dinilai dapat meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri.

Penyesuaian pajak yang lebih proporsional akan membuat biaya transaksi lebih efisien, sekaligus mendorong partisipasi investor lokal dan memperkuat ekosistem kripto nasional.

Sebaliknya, jika beban biaya transaksi dinilai terlalu tinggi, investor berpotensi beralih ke platform luar negeri yang tidak berada dalam pengawasan regulator, sehingga meningkatkan risiko arus modal keluar dan menurunkan perlindungan bagi investor domestik.

Cek Rekomendasi Teknikal Saham ASII, TOWR, dan CPIN, Perdagangan Kamis (7/5)

Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, investor ritel disarankan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko.

Penggunaan leverage perlu dibatasi dan keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada emosi atau pergerakan jangka pendek.

“Investor juga dapat melakukan diversifikasi ke aset yang lebih stabil, seperti stablecoin atau aset kripto berkapitalisasi besar, sambil tetap menjaga porsi dana tunai untuk memanfaatkan peluang ketika kondisi pasar mulai pulih,” kata Calvin.

Strategi bertahap seperti dollar cost averaging dinilai dapat membantu mengurangi risiko masuk di harga yang kurang optimal.

Selain itu, investor juga disarankan menggunakan platform exchange resmi yang diawasi regulator, memahami risiko setiap aset sebelum bertransaksi, dan tidak menempatkan dana di luar kemampuan finansialnya.

Pada akhirnya, fokus utama investor dalam kondisi pasar yang belum stabil adalah menjaga modal dan mengelola risiko, sambil menunggu momentum pasar yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *