
Scoot.co.id – JAKARTA. Indeks utama bursa saham Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian pasar global.
Indeks acuan S&P 500 dan indeks saham unggulan Dow Jones Industrial Average tercatat mengalami penurunan, sementara pelaku pasar menimbang dampak ketegangan geopolitik terhadap prospek ekonomi global, meski sebelumnya pasar sempat ditopang oleh optimisme laporan kinerja emiten.
Ketegangan Selat Hormuz Tekan Sentimen Pasar
Sentimen pasar melemah setelah muncul laporan yang saling bertentangan terkait insiden kapal perang Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Iran mengklaim berhasil memaksa kapal perang tersebut mundur setelah mencoba memasuki wilayah strategis itu, bahkan media semi-resmi Iran melaporkan adanya serangan rudal. Namun, Amerika Serikat membantah klaim tersebut.
Kembali Capai Rekor Terlemah Baru, Rupiah Berpotensi Tembus ke Rp 17.500
Ketidakpastian informasi ini membuat investor berhati-hati setelah reli pasar yang cukup kuat pada pekan sebelumnya.
“‘Saya tidak percaya bahwa pasar telah sepenuhnya memperhitungkan risiko jangka panjang yang akan datang,’ ujar Mark Malek, Chief Investment Officer Siebert Financial, menyoroti potensi risiko jangka panjang dari konflik yang dapat mendorong kenaikan harga minyak.
Konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan turut menahan laju ekonomi global akibat harga energi yang tetap tinggi. Harga minyak Brent tercatat naik sekitar 2,2% dan diperdagangkan di atas US$110 per barel, memperkuat kekhawatiran inflasi global.
Pergerakan Indeks dan Sektor
Pada perdagangan pukul 09:42 waktu AS, indeks Dow Jones Industrial Average turun 230,93 poin atau 0,47% menjadi 49.268,34. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,09% ke level 7.223,64. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru naik tipis 0,11% ke 25.141,31.
Dari 11 sektor utama S&P 500, sembilan sektor berada di zona merah. Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 0,7%.
Indeks volatilitas pasar CBOE Volatility Index yang dikenal sebagai “fear gauge” Wall Street juga naik ke level 17,56, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor.
Faktor Musiman dan Prospek Pasar
Secara historis, periode Mei hingga Oktober kerap menjadi fase yang lebih lemah bagi pasar saham. Data jangka panjang menunjukkan S&P 500 hanya mencatat rata-rata kenaikan sekitar 2% pada periode tersebut, lebih rendah dibandingkan kenaikan sekitar 7% pada November hingga April.
Namun, analis menilai pola musiman tidak selalu dapat dijadikan acuan pasti arah pasar.
Menanti Data PDB, Cermati Proyeksi Rupiah pada Selasa (5/5)
“Meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak dapat memberikan dukungan berkelanjutan bagi pasar saham, terutama jika kinerja laba perusahaan tetap kuat,” ujar Adam Turnquist, Kepala Strategi Teknis LPL Financial.
Aktivitas Korporasi: Dari Berkshire hingga Amazon
Di sisi korporasi, Berkshire Hathaway melaporkan penjualan bersih saham selama 14 kuartal berturut-turut, yang kembali menjadi sorotan investor sebagai indikator valuasi pasar.
Saham FedEx dan United Parcel Service masing-masing turun tajam setelah Amazon mengumumkan ekspansi layanan logistik baru melalui “Amazon Supply Chain Services”, yang meningkatkan persaingan di sektor distribusi.
Sementara itu, saham Norwegian Cruise Line Holdings juga melemah setelah memangkas proyeksi tahunan akibat kenaikan biaya bahan bakar.